Menghasilkan Susu Lebih, Meningkatkan Laba

Menghasilkan Susu Lebih, Meningkatkan Laba

K endala yang masih menjadi pe ker – jaan rumah bagi industri susu di Ta – nah Air adalah masalah produk tivi – tas. Gabungan Koperasi Susu Indone sia (GKSI) Jawa Barat mencatat, produksi su su segar dalam negeri (SSDN) hanya me nyum – bang 18% dari total produksi na sio nal. Se – mentara selebihnya, terpaksa im por dalam bentuk susu bubuk (skim milk powder). Bermaksud mendorong penambahan kualitas dan kuantitas susu di Indonesia, Uni ted States Department of Agriculture Foreign Agricultural Service (USDA FAS) menyelenggarakan seminar yang ber – lang sung di Malang, Jawa Timur (10/4) dan Bandung, Jawa Barat (11/4).

Selain memberikan pemaparan teknis, kegiatan ini sekaligus ajang promosi bahan pakan asal Negeri Paman Sam tersebut. Atase Pertanian USDA FAS, Garrett McDonald mengungkapkan, permintaan susu segar di Indonesia semakin mening – kat seiring dengan pertumbuhan ekono – mi. Di sisi produksi, peternak, terutama yang berskala usaha kecil, mengalami ken dala dalam memenuhi kebutuhan ini. Peningkatan produksi susu, menurut Garrett, dapat diperoleh melalui pemilih – an pakan dan pengelolaan reproduksi se – cara tepat. “Hasil ternak yang mereka pa – nen merupakan cerminan dari asupan yang diberikan kepada ternak,” ujarnya kepa da AGRINA. Narasumber seminar yang didatangkan merupakan para ahli di persoalan sapi pe – rah dan bidang pakan. Apa saja poin pen – tingnya? Mari kita simak.

Fokus di Jarak Kelahiran

CEO Dairy Pro Indonesia, Deddy F Kurnia – wan mengungkapkan, kebanyakan peter – nak sapi perah belum tahu bagian mana yang harus mereka fokuskan saat berbudi – daya. Menurut konsultan manaje men sapi perah ini, faktor terbesar yang menentukan untung rugi dalam berbisnis sapi perah adalah calving interval (jarak kelahiran). Biasanya, calving interval di kalangan peternak adalah 18 bulan. Namun, agar pe – ternak mendapatkan hasil yang bagus, Deddy menyarankan waktu calving inter val sebaiknya diperpendek menjadi 12-14 bulan saja. Dari situ, keuntungan yang dida patkan peternak bisa signifikan. Dalam setahun atau terhitung 365 hari masa calving interval-nya, kebuntingan membutuhkan waktu 9 bulan 10 hari (280 hari). Kemudian 40 hari untuk involusi ra him sapi agar bunting kembali. Sisa waktu 45 hari inilah yang dibutuhkan untuk mem bun – tingkan kembali sapi. “Ada waktu dari hari ke 40 sampai ke 85 untuk mem buat sapi bisa dikawinkan dan bunting. Tar get nya satu sapi setiap tahun,” jelas dok ter hewan ini.

Untuk mencapai waktu tersebut, Dedy men jabarkan, setidaknya ada enam pro se – dur yang perlu diperhatikan. Pertama ada -lah periode kering kandang yang peternak perlu menjaga kondisi tubuh sapi tetap stabil. Berikutnya, periode transisi dengan memperhatikan asupan nutrisi dan mana – je men kandang. Ketiga, memprioritaskan kelahiran pedet secara normal. Sebab, ulas dia, sebanyak 75% masalah gangguan reproduksi berawal dari prosedur kelahiran yang buruk. Keempat, fresh drench untuk mengatasi anomali daya tahan sapi pascamelahirkan (fresh cow anomaly). Deddy menjelaskan, fresh drench merupakan pemberian suple – men dalam bentuk instan dan bisa cepat diberikan sesaat setelah sapi melahirkan. “Ini sapi seperti dicekoki. Siklus fisiologis dan hormonal jadi cepat teratasi. Sehing ga performa puncak sapi bisa dicapai le bih awal. Waktu recovery (pemulihan) yang tadinya butuh paling sedikit dua ming gu, sekarang hanya butuh 4-5 hari,” terang dia. Kelima, fresh check atau pemeriksaan baru oleh dokter hewan. Terakhir, metri – checking untuk mengecek adanya infeksi de ngan memasukkan metricheck ke da – lam vagina sapi. Serta inseminasi buatan (IB) yang higienis dan harus sempurna sedari awal. Sementara itu, Deddy menyebutkan faktor-faktor penentu bagusnya performa sapi, yakni penerapan kesejahteraan he – wan, stress panas (heat stress), nutrisi, dan kesehatan umum.