Potensi Expor Hasil Laut Indonesia

Dengan wilayah yang 70% berupa laut, Indo – nesia kaya akan sumber daya per ikanan. Machmud, Di – rektur Pemasaran, Dit jen Pe – nguatan Daya Saing Pro duk Kelautan dan Perikanan, KKP menyatakan, potensi ikan dalam negeri sangat luar biasa. Pro – gram Menteri KKP Susi Pudji – astuti membangun Sentra Ke – lautan Perikanan Terpadu (SKPT). Program tersebut ada di wilayah perbatasan, yaitu Sa – bang, Na tu na, Sebatik, Morotai, Sumba Ti mur, Timika, dan Me – rauke yang belum tersentuh sama sekali da lam penangkapan ikan lokal. Pada 2014, lanjutnya, Menteri Susi memantau ke Sangihe ba nyak nelayan Filipina yang me nang kap ikan tuna sirip kuning. Padahal ikan ter sebut banyak diekspor oleh Indonesia dengan harga cukup lumayan mahal. Ikan yang masih segar seharga US$10/ kg lebih, sedangkan beku US$4-6/kg.

“Orang asli Sangihe ahli me – mancing, ombak besar makin senang, tetapi Sumber Daya Manusia – nya masih minim. Pada – hal potensi tuna luar biasa, apalagi sumber pangan akan beralih ke laut karena ikan kita ba – nyak, sebagai sumber protein,” katanya saat acara AGRINA Agribu siness Outlook 2019 di Jakarta (11/04). Menurut Machmud, Indonesia masih impor ikan salmon dari Norwegia sebagai imbal beli dengan sawit Dalam perjanjian hanya untuk hotel atau restoran saja. Tetapi yang terjadi permintaan salmon semakin meningkat. Hal ini disebabkan karena promosi yang menarik salmon mengandung omega 3 paling tinggi sehingga tanpa disadari atau tidak permintaan meningkat. Padahal, ikan yang memiliki ome – ga 3 paling tinggi adalah ikan kem – bung 28% omega 3-nya, bandeng 27%, sedangkan salmon hanya se ki – tar 22% saja. Masyarakat jangan terlalu bangga dengan harga yang mahal tapi ome ga 3 dalam kan – dungan sal mon lebih rendah di ban – dingkan ikan lokal. “KKP meng – gemborkan gemar makan ikan lo kal. Sehingga impor tersebut dapat ditekan. Semoga tahun depan ikan yang sudah banyak ini menjadi sum – ber protein kita. Selain itu juga akan ada rumput laut,” jelasnya pasti.

Potensi Ekspor

Indonesia masih memiliki pe luang ekspor ke pasar baru, yaitu Afrika. Nilai ekspor Indonesia me ningkat ke Afrika dari 1.000 ton, sekarang menjadi 2.600 ton selama dua bulan. Rata-rata penduduk Afrika masih muda berusia 23 tahun, masih ada peluang ekspor ke daerah tersebut. Sementara kondisi penduduk Uni Eropa berusia 47-48 tahun begitu juga dengan Jepang. Selama ini kita bertumpu ke pasar Jepang, Amerika Serikat dan Uni Eropa. “Konsumsi ikan di Jepang turun. Semakin tua konsumsi semakin sedikit,” katanya. Potensi ekspor lainnya ada di Uni Emirat Arab untuk patin dengan nilai US$13 juta. Rencana ter – sebut untuk kebutuhan haji dan umroh. Konsumsi ikan lebih tinggi bisa mencapai 5 kali dibandingkan komoditas lainnya seperti telur 4 kali, daging ayam 3 kali, sapi 2 kali dalam seminggu. Peluang ekspor bisa mencapai 400 ton lebih. Ekspor perikanan nasional pada 2018 mencapai US$4,86 miliar atau setara Rp69,37 triliun. Potensi produksi ikan nasional meningkat tajam mulai dari 6,4 juta ton pada 2001, pada 2015-2016 men – capai 12,54 juta ton. Ini sa ngat menggiurkan bagi negara lain, Indo – nesia me miliki banyak ikan khu susnya daerah timur. Sementara konsumsi ikan segar pada 2018 mencapai 50,69 kg/ka – pita/tahun. Karena itu jargon gemar makan ikan terus digaungkan.