Potensi Expor Hasil Laut Indonesia Bagian 2

Udang

Tidak hanya ikan saja yang akan diekspor, udang juga masih menjadi andalan ekspor. Udang berasal dari budidaya dan tangkapan. Nilai ekspor udang selalu mengalami peningkatan pada 2016 perikanan budidaya US$1,125 juta, perikanan tangkap US$318,05 juta. Pada 2017 perikanan budidaya US$1,226 juta, perikanan tangkap US$372,87 juta. Pada 2018 per November perikanan budidaya US$1,194 juta, perikanan tangkap US$435,65 juta. Sedangkan, volume ekspor udang lanjut Machmud, pada 2016 perikanan budidaya 120, 54 ribu ton, perikanan tangkap 38,30 ribu ton.

Pada 2017 perikanan budidaya 125,17 ribu ton, perikanan tangkap 40,20 ribu ton. Pada 2018 per November 134,99 ribu ton, perikanan tangkap 48,99 ribu ton. Komposisi bahan baku ekspor udang yang berasal dari perikanan budidaya dibandingkan dengan hasil tangkap rata-rata sebesar 66%. “Bahan baku ekspor udang yang berasal dari perikanan budidaya cenderung lebih diminati konsumen karena safe dan reliable. Selain itu sisi suplai, produksi budidaya udang lebih dapat dikontrol untuk memenuhi kebutuhan lonjakan bahan baku dalam rangka memenuhi target ekspor udang,” jelasnya. Menurut Machmud, target ekspor udang pada 2019 nilai ekspor US$5,20 miliar dengan volume ekspor 1,03 juta ton. Pada 2020 nilai ekspor US$6,17 miliar dengan volume 1,17 juta ton. Pada 2022 nilai ekspor US$7,62 miliar dengan volume 1,47 juta ton. Kenaikan rata-rata nilai ekspor diperkirakan 11,5% per tahun. “KKP memiliki program US$1 miliar selama tiga tahun untuk meningkatkan ekspor udang, atau sekitar 150 ribu ton. Dunia memiliki kegemaran makan udang, sehingga budidaya udang meningat tajam. Ekspor udang nasional 134 ribu ton pada 2018 hingga masuk dalam urutan ke 5 setelah Vietnam,” ungkapnya.

7 Strategi KKP

Machmud mengungkapkan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memiliki 7 strategi peningkatan ekspor hasil perikanan, yaitu pertama, meningkatkan ekspor perikanan komoditas penting (udang). Menyusun rencana aksi nasional peningkatan ekspor udang US$1 miliar melalui peningkatan produksi, daya saing, dan perbaikan infrastruktur logistik. Kedua, menggenjot ekspor patin dengan tema “Indonesia Pangasius Better Choice”. Memanfaatkan fenomena patin Vietnam yang sedang dilanda isu pencemaran. Ketiga, efisiensi dan efektivitas logistik produk perikanan (Pembukaan Koridor Logistik). Keempat, SKPT (Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu) yang telah dibangun dan wilayah berpotensi lainnya menjadi export gateway khususnya di ALKI III. Kelima, peningkatan kapasitas market intelligence. Keenam, diplomasi penanganan hambatan ekspor dan penurunan tarif bea masuk ekspor (Jepang, EU, EFTA, Iran, Australia, RCEP). Ketujuh, pameran internasional dan branding produk di pasar tradisional dan non-tradisional (seperti Timur Tengah) dan kampanye “Combating IUU Fishing & Seafood Fraud”. “Indonesia masih memiliki potensi yang besar untuk ekspor perikanan,” tegasnya